ASKEP RETENSIO PLASENTA PDF

Pathway Retensio Plasenta Perdarahan Post Partum Karena Retensio Bisa Plasenta. Full description. SOP PENANGANAN RETENSIO Lp Retensio Plasenta. Lp Retensio PlasentaFull description SOP PENANGANAN RETENSIO Pathway Retensio Plasenta. Pathway. Pathway Retensio Plasenta. Pathway Retensio Plasenta. SOP PENANGANAN RETENSIO Solusio Plasenta. askep solusio plasenta.

Author: Zolojinn Tojagor
Country: Haiti
Language: English (Spanish)
Genre: Travel
Published (Last): 15 October 2011
Pages: 108
PDF File Size: 18.66 Mb
ePub File Size: 7.12 Mb
ISBN: 906-8-63192-799-8
Downloads: 11004
Price: Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader: Vorr

Spo Pelayanan Histerektomi jFull description. Asoep Previa Full description. Plasenta Restan plasenta restanFull description. Plasenta Previa plasenta previa.

Akibat tidak adanya desidua basalis secara parsial atau total dan gangguan perkembangan lapisan fibrinoid membran Nitabuch. Pada plasenta akreta vili korialis menanamkan diri lebih dalam ke dinding rahim. Pada plasenta normal menanamkan diri sampai ke batas lapisan otot rahim.

Plasennta ini terjadi karena bertambahnya angka pelahiran caesar. American college of obstetricians and gynecologist memperkirakan bahwa plasenta akreta timbul sebagai komplikasi dalam 1 retenso kelahiran.

Dari ulasan Stafford dan Belfort melaporkan insiden sekitar 1 dari pada tahun an. Terdapat faktor resiko untuk plasenta akreta yang telah diketahui berkat penapisan MSAFP untuk defek tabung saraf dan aneuploidi.

Hung, dkk, menganalisis keluaran pada lebih dari perempuan yang ditapis untuk sindrom down pada 14 hingga 22 minggu gestasi. Perlengketan abnormal ini dapat mengenai semua lobuli plasenta plzsenta totalatau hanya melibatkan beberapa bagian lobuli plasenta akreta parsial dan semua atau sebagian lobulus tunggal dapat melekat abnormal plasenta akreta fokal.

Plasenta akreta dapat menyebabkan plasenta. Perdarahan antepartum dengan plasenta akreta lazim terjadi dan biasanya terjadi akibat plasenta previa yang terdapat bersamaan. Pada plasehta kasus, plasenta akreta tidak diidentifikasi rstensio persalinan kala III. Berbagai upaya dilakukan untuk mengidentifikasi secara lebih tepat pertumbuhan plasenta ke arah dalam sebelum terjadi partus. Lam dkk, menemukan bahwa sensitifitas sonografi hanya 33 persen untuk mendeteksi plasenta akreta.

Dengan pemetaan aliran warna menggunakan Doppler sonografik, Twickler dkk melaporkan bahwa terdapat dua faktor yang sangat prediktif untuk invasi miometrium: Kedua faktor ini memiliki sensitivitas persen dan nilai prediktif positif 78 persen. Hal tersebut mungkin mencerminkan invasi trofoblastik ke dalam miometrium dan jaringan sekitar. Pada plasenta akreta parsialis, masih dapat dilepaskan secara manual, tetapi plasenta akreta kompleta tidak boleh dilepaskan secara manual karena usaha ini dapat menimbulkan perforasi dinding rahim.

Keberhasilan pengobatan bergantung pada pemberian darah pengganti dengan segera dan hampir selalu histerektomi dini. Definisi 2,4,5,8,9 Histerektomi obstetrik adalah pengangkatan rahim atas indikasi obstetrik. Histerektomi adalah prosedur bedah mayor yang paling sering dilakukan retfnsio perempuan usia subur. Histerektomi mungkin merupakan operasi nomor tiga atau empat yang paling sering dilakukan di Amerika Serikat.

Prosedur ini dapat dilakukan secara abnormal atau vaginal, bergantung pada indikasi spesifik. Histerektomi vaginal lebih disukai karena tidak dilakukan insisi abdomen, lama rawat inap lebih singkat, dan pemulihan lebih cepat.

LP Retensio Urine – PDF Free Download

Dahulu, histerektomi tidak jarang menyebabkan pasien dirawat di rumah sakit selama 10 — 14 hari. Saat ini,pasien biasanya hanya menginap 3 — 4 hari setelah histerektomi abdominal dan 2 — 3 hari setelah histerektomi vaginal.

  AQUILARIA CRASSNA PDF

Sejumlah batasan dilakukan untuk menjelaskan histerektomi dengan lebih akurat. Istilah histerektomi dan histerektomi total keduanya dapat dipakai bergantian, yang artinya pengangkatan uterus secara lengkap, termasuk serviks.

Histerektomi subtotal adalah pengangkatan korpus uteri saja. Histerektomi abdominal adalah pengangkatan korpus uteri dan serviks melalui insisi abdominal. Histerektomi vaginal adalah pengangkatan serviks dan korpus uteri melalui vagina. Histerektomi ekstrafasial adalah pengangkatan uterus dan serviks bersama — sama dengan lapisan fasia luar serviks fasia endopelvis. Histerektomi intrafasial adalah pengangkatan uterus dan serviks dari dalam fasia endopelvis serviks.

Indikasi dilakukan histerektomi terbagi atas: Perdarahan yang tidak dapat dikontrol dengan cara-cara yang ada, misalnya pada: Uterinae terputus – Plasenta inkreta dan perkreta – Hematoma yang luas pada rahim 3. Infeksi intrapartal berat, untuk ini biasanya dilakukan operasi Porro, yaitu uterus dengan isinya diangkat sekaligus bulat-bulat 4.

Uterus miomatosus yang besar 5. Kematian janin dalam rahim dan missed abortion dengan kelainan darah 6. Keganasan ginekologi – Serviks – Uterus – Ovarium – Tuba 7. Penyakit jinak ginekologi refrakter terhadap terapi lain – Leiomioma uteri – Adenomiosis bergejala – Endometriosis bergejala – Sindrom relaksasi panggul bergejala – Nyeri panggul pusat sehingga menimbulkan ketidakmampuan kronis – Penyakit radang pelvis berat atau Abses – Perdarahan uterus yang sulit diatasi 8.

Komplikasi obstetri – Perdarahan uterus yang tidak dapat dikendalikan – Kehamilan mola. Teknik Histerektomi 4,5,8,13, 1.

Histerektomi abdominal Pasien diletakkan pada posisi terlentang, dan dipasang kateter Folley dalam kandung kemih. Meskipun insisi kulit tergantung masalah alamiahnya, untuk kebanyakan keadaan jinak dapat dilakukan insisi melintang rendah pfannenstiel.

Untuk kasus — kasusu keganasan dengan komplikasi, insisi qskep garis tengah bagian bawah simfisis pubis hingga umbilikus memberikan pemaparan dan kemungkinan perluasan yang lebih baik. Paada insisi melintang, fasia diinsisi melintang, melengkung kearah lateral superior untuk menghindari daerah inguinal, muskulus piramidalis dipisahkan bersama dengan muskulus rektus. Kemudian masuk dengan selubung rektus posterior dan peritoneum dengan hati — hati.

Peritoneum biasanya diinsisi secara vertikal.

Sekum dan apendiks diperlihatkan dan abdomen atas ginjal, hati, kandung empedu, lambung dan usus kecil bagian proksimal, pankreas di aakep. Usus digeser hati — hati kebagian atas abdomen.

Dipermudah dengan meletakkan pasien pada posisi sedikit trendelenburg. Ligamentum rotundum diligasi dengan benang dan dipotong. Dengan pemisahan secara tajam dibuat insisi di memungkinkan sepanjang ligamentum ligamentum latum latum terpisah dan anterior, rongga retroperitoneal terbuka. Insisi ini tepat diatas lipatan uterovesika. Dengan diseksi tajam dan kemudian tumpul, kandung kemih dipisahkan dari serviks.

Pada saat ini, dengan diseksi tumpul tambahan secara minimal, pembuluh pelvis dan ureter dapat dikenali. Diseksi garis tengah diperluas ke vagina sampai labium anterior serviks teraba. Pada saat ini, retensi tumpul dilakukan ke lateral untuk mengangkat plaeenta dari pembuluh darah uterus. Jika akan dilakukan ooforektomi, peritoneum posterior diinsisi secara vertikal tepat tepat 1 cm di infundibulopelvis.

Begitu dipastikan lateral ligamentum ureter sudah bebas, ligamentum infundibulopelvis diligasi dua kali. Ovarium dibawa ke medial. Jika adneksa ingin dipertahankan, setiap ligamentum uteroovarii diklem dan diligasi pada tempat insersi uterus retrnsio bagian pedikel termasuk tuba retensioo dan peritoneum posterior diinsisi ke arah insersi ligamentum uterosakrum.

  HMC1001 DATASHEET PDF

Pembuluh darah pelvis dikenali dn diisolasi pada ketinggian ostium interna. Arteri dan vena diklem dan diligasi dua kali. Ligamentum kardinale diklem biasanya dengan menyelipkan klem dari serviksdiinsisi dan diligasi pada beberapa bagian pada setiap sisi.

Sop Retensio Plasenta

Jika detensio ligamentum uterosakrum, ligamentum tersebut diklem, diligasi dan diinsisi. Pada saat ini serviks plaeenta diraba dan vagina dimasukkan biasanya melalui anterior dengan diseksi tajam. Dilakukan insisi melingkar dan spesimen diangkat. Ligamentum uterosakrum dan kardinale dijahit kesudut vagina untuk memastikan penopang vagina dan vagina ditutup dengan jahitan. Penutupan vagina dapat dari mukosa ke mukosa dengan menjahit vagina secara tertutup anterior ke posterior.

Atau lumen vagina dibiarkan terbuka biasanya untuk rehensio dengan jahitan sederhana di sekitaar vagina. Pada kedua kasus digunakan benang yang dapat diserap. Peritoneum pelvis seringkali ditutup, terapi penelitian dewasa ini menunjukan bahwa penutupan ini tidak selalu diperlukan. Setelah semua spons, jarum, dan alat — alat dihitung dan jumlahnya sudah benar, peritoneum parietal ditutup dan fasia diaproksimasi kembali dengan jahitan.

Jaringan subkutan ditutup dan kulit ditutup dengan jahitan atau klip. Kassa kering dipasang untuk mengakhiri tindakan. Reteniso ini dipermudah jika terjadi prolaps uteri. Pasien diletakkan pada posisi litotomi dorsal dan vagina serta pudendum dibersihkan dengan larutan antiseptik. Dipasang kain penutup steril, dan spekulum dimasukkan ke dalam vagina sebelah posterior.

Serviks dijepit dan mobilitas retensii lagi. Dibuat insisi melingkar pada fasia di sambungkan servikovaginal dan cul — de — sac dimasuki. Begitu dipastikan cul-de-sac sudah bebas, ligamentum uterosakrum dikenali, diklem, diinsisi dan diligasi. Pada saat ini, disarankan menjahit mukosa vagina bagian posterior ke peritoneum untuk menghentikan perdarahan dari daerah ini.

Jika anatomi memungkinkan, digunakan diseksi tajam dan tumpul dengan modifikasi untuk membebaskan kandung kemih dari serviks untuk menginsisi peritoneum anterior.

Jika sulit, satu atau lebih ligamentum kardinale dapat diklem, diinsisi dan diligasi. Begitu peritoneum anterior dimasuki, lakukan diseksi tumpul ke lateral untuk memisahkan ureter dari pembuluh darah uterus, sementara retraktor dibiarkan untuk meninggikan dan mempertahankan kandung kemih.

Pembuluh darah uterus dikenali, diklem, diligasi dan diinsisi secara bilateral. Setelah ligamentum latum diklem, diligasi, dan dinsisi secara bilateral, ligamentum uteroovarii, tuba fallopi dan ligamentum rotundum diklem, diinsisi dan diligasi pada satu pedikel.

Ovarium diamati dan diamankan hemostasis. Peritoneum ditutup dengan benang yang dapat lpasenta sehingga semua pedikel terletak ekstraperitoneal. Segmen terbawah ligamentum cardinale dan ligamentum uterosakrum dijahit ke sudut vagina superior dan biasanya ligamentum uterosakrum dijahit bersama — sama ke garis tengah.

Akhirnya ujung vagina ditutup dengan benang yang dapat diserap. Histerektomi vaginal dengan bantuan laparoskopi dewasa ini sudah mulai digunakan secara luas. Histerektomi dilengkapi dengan reseksi ligamentum uterosakrum dan bagian bawah ligamentum cardinale per vaginam.